Archive

Tag Archives: Ethan

I don’t consider myself as someone with even the sligthest talent of art. Not even a little bit. During my school year, I was struggling to draw a Durian. I was so hopeless that my drawing look like a hedgehog with fat needle. I ended up asking my friend’s help to draw the damned Durian for me.

But, things change when I was faced with a toddler, my 3 years old son. He was fond of windmill, and often bring in front of me, a clean sheet of paper and different colour of marker, and asked me to draw windmills.

So, here I am, in front of a toddler, who don’t really judge whether the windmill even look pretty or not. He only care that the drawing has a cross mark on it. Why should I bother? On that day, I express myself in drawing 10 different windmill with 10 different colour, on a piece of paper.

Sepuluh Kincir

Ten Windmill, Ten Colour

For me, it is the best windmills that I’ve ever draw. I don’t know whether my son agreed or not, but he seems to be content. Well, the truth is that, it seems that I have some artist in me after all.

This post is written for WordPress weekly photo challenge: Express Yourself. Well, technically, this is not a photo. I put this up anyway, because this drawing is the best expression of myself to date.

Beberapa minggu sebelum kelahiran Baby Ethan, kami menghadiri beberapa kelas laktasi. Tujuan kami cuma 1: Kami ingin memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan untuk Baby Ethan. Agak kaget dan bingung juga, soalnya menyusui itu harusnya alami, yang dilakukan oleh seluruh mamalia dalam rantai evolusi kita. Tapi ya, memang kenyataanya begitu, kalau mendengra cerita konsultan dan sesama peserta yang anaknya sudah lahir.

Dari semua masalah, ada 2 hal yang menurut saya menarik: soal susu formula dan soal penggunaan artificial nipple, atau yang lebih populer dengan dot. Berikut pandangan saya mengenai kedua hal tersebut setelah Baby Ethan berusia 2 minggu.

Tentang Susu Formula

Melihat iklan-iklan susu formula sungguh sangat meyakinkan. “Dipekaya oleh DHA, ARA, gizi seimbang”, kurang lebih begitu. Siapa sih yang nggak ingin anaknya sehat dengan memberikan gizi seimbang?

Lalu, kenapa kami masih bersikeras dengan ASI? Pertanyaan saya cuma 1: Kita ini anak manusia atau anak sapi? Anak saya sih anak manusia, jadi dia minum susu manusia, bukan susu sapi.

Kembali ke kelas Laktasi yang kami ikuti, beberapa memang sangat keras anti dengan susu formula. Sebegitu kerasnya sampai saya pun mulai berpikir: Apakah memang susu formula segitu buruknya? Kalau memang buruk, kenapa tidak dihentikan sajah penjualannya oleh pemerintah?

Jawabannya saya temukan setelah Baby Ethan berusia 5 hari. Baby Ethan lahir dengan Hypoglycemia, kondisi dimana gula darah terlalu rendah akibat produksi insulin yang terlalu tinggi. Hal ini akan menghilang seiring perkembangan bayi, namun untuk menjaga agar gula darah tidak terlalu rendah dan menyebabkan kerusakan syaraf, Bayi Ethan harus minum lebih banyak. Karena produksi ASI masih baru mulai, dan daripada memberikan sirup gula yang notabene tidak ada gizi-nya, maka kami pun memberikan susu formula kepada Bayi Ethan.

Hingga saat ini, hanya sekali itu Baby Ethan pernah mencicipi susu formula. Dan untuk kami, susu formula menyelamatkan Baby Ethan. Apabila susu formula dilarang di produksi, mungkin Baby Ethan sudah tidak ada dalam gendongan kami sampai hari ini.

Susu formula bukanlah sesuatu yang jelek. Namun susu formula BUKAN pengganti ASI. Susu formula harus dilihat sebagai suplemen apabila dibutuhkan. Hal ini menjadi salah apabila Susu Formula dilihat sebagai pengganti ASI untuk menyediakan gizi yang lebih lengkap kepada bayi.

Tentang Dot

Hal kedua yang tabu dalam kelas laktasi yang kami ikuti adalah dot, empeng, dan sejenisnya. Alasannya sangat masuk akal: Dot, sebagaimanapun canggihnya, sangat berbeda dalam hal pengeluaran susu. Secara panjang lebar dijelaskan di sini.

Namun lagi-lagi, dot adalah penemuan untuk memudahkan kita, yang tidak perlu ditabukan. Yang harus dihindari adalah pemikiran bahwa dot ini bisa menggantikan puting, atau bahkan lebih baik dari puting.

Baby Ethan dilahirkan melalui operasi cesar karena alasan medis. Pasca operasi, sang ibu harus berkutat dengan masalah pemulihan operasi, dan memenuhi kebutuhan Baby Ethan yang perlu disusui lebih sering dari bayi-bayi biasanya karena masalah hypoglycemia yang sudah saya tulis di atas. Rasanya si ibu akan stress dengan hal-hal ini, dan stress bisa menghambat produksi ASI. Sebelum lingkaran setan ini terjadi, kita harus berbuat sesuatu.

Salah satu bantuan dari keluarga adalah untuk memberikan susu ASI Perah ke Baby Ethan. Tapi cara yang terbaik menggunakan sendok atau feeding cup tidak dikuasai semua orang. Bahkan orang tua kami berkata: “Mana bisa bayi baru lahir minum dari gelas atau sendok”

Masalah kedua adalah waktu. Memberikan 50cc  ASI melalui sendok atau feeding cup makan waktu hampir 1 jam, sedangkan dengan dot hanya kurang lebih 5-10 menit. Hidup di Jakarta, dimana waktu adalah segalanya, kadang membuat cup feeding atau sendok menjadi kurang efisien.

Pada akhirnya, kami kembali pada tujuan bahwa, yang penting Baby Ethan mendapatkan ASI. Apabila waktu lagi panjang, seperti pada akhir pekan atau di malam hari, saya dengan sabar memberikan ASI Perah dengan feeding cup. Tapi di pagi hari, ketika ibu terlalu lelah karena Baby Ethan rewel sepanjang malam, terkadang saya menggunakan dot.

Kami melihat dot bukanlah sesuatu yang tabu, atau sebagai pengganti puting, tapi alat bantu disaat kami sedang dikejar waktu. Di lain waktu? Baby Ethan tetap menyusui dari si ibu.

Setiap bayi, 1 hari, 1 minggu, 1 bulan atau lebih, merupakan individu yang unik. Tidak ada suatu metode pun yang bisa diterapkan pada bayi. Dan setiap keluarga yang baru memiliki bayi akan memiliki masalah sendiri. Pada akhirnya toh, kita menginginkan anak yang sehat, entah menggunakan campuran susu formula, atau menggunakan dot.